Keep On Writing, Keep It Going.

Saya sudah pernah menuliskan sebelumnya tentang bagaimana awal mula saya belajar menulis disini.

Dan pada tulisan kali ini, saya ingin melanjutkan tentang hal apa yang membuat saya tidak berhenti dari kegiatan menulis.

Sometimes the things that are seemingly the most tangential in your life are worth exploring. Trust that gut feeling. And it is never, ever a bad idea to learn how to convey your thoughts and ideas in written form — no matter where you publish them. –M.G. Siegler

Sebagai tipikal nokturnal, sampai sekarang waktu malam selalu menjadi waktu terbaik bagi saya untuk menulis.

Perbedaannya adalah kalau dulu saya sampai tidak ingat waktu.

Dulu saya bisa menghabiskan berjam-jam saat tengah malam hingga menjelang subuh hanya untuk menulis satu sampai tiga artikel untuk saya post di blog.

Keesokan harinya, saya akan berangkat ke kampus untuk mengikuti mata kuliah seperti biasa.

Sepulangnya dari kampus, siang atau sorenya biasanya akan saya manfaatkan dengan tidur. Dan itu terjadi setiap hari.

Kebiasaan saya yang – serba terbalik – tersebut semakin parah setelah kedatangan penghuni baru di kamar sebelah, namanya Bayu, seorang mahasiswa perantauan dari Kudus yang kuliah di kampus yang berbeda dengan saya.

Sial, kebiasaannya yang ternyata hampir sama seperti saya  – suka begadang – malah membuat kami berteman baik.

In fact, he is extremely night owls person.

Hampir setiap malam kalau kami berdua sedang berada di kontrakan, saya atau dia akan main ke kamar masing-masing.

Saya akan datang sambil membawa laptop dan buku agar lebih fokus untuk mengerjakan tugas dan tentunya sebagai inspirasi saya dalam menulis, sedangkan dia akan sibuk dengan game dan kegemarannya terhadap anime.

Menjelang pagi, jika ada salah satu dari kami yang bangun terlebih dulu, maka sudah menjadi tugasnya untuk membangunkan yang lain agar bersiap untuk kuliah pagi. Begitu seterusnya.

Hari-hari saya sebagai mahasiswa saat itu tidak pernah lepas dari rasa kantuk dan terbangun dari tidur dengan kepala yang sangat berat.

Badan terasa ringan kadang juga sesak dipakai untuk berjalan, rasanya seperti sedang dihimpit oleh dua tembok besar. Berantakan.

Beruntungnya, pola hidup saya yang seperti itu tidak keterusan.

Saya mulai mencari cara untuk memperbaiki jam tidur malam saya yang carut marut tersebut dengan salah satunya memutuskan untuk pindah dari kelas pagi ke kelas malam beberapa minggu kemudian.

Beberapa bulan berjalan, kelas malam mulai berhasil membuat saya lebih menghargai bahwa waktu malam memang waktu yang seharusnya saya gunakan untuk mengistirahatkan tubuh. Bukan sebaliknya.

Kebiasaan baru saya setiap pulang dari kuliah malam adalah menyempatkan diri untuk sekadar main atau mengerjakan tugas bersama teman di kantin atau tempat tongkrongan lainnya.

Supaya nanti ketika sampai di kontrakan, saya akan terlelap karena capek.

Beruntung, cara tersebut lumayan berhasil.

Terbukti satu bulan setelah saya menjalani rutinitas tadi jam tidur saya mulai kembali normal.

Bayu masih setia dengan kebiasaannya tidur larut hingga semester akhir.

Dan saya hampir setiap pagi akan mengetuk pintu kamarnya dan membangunkannya ketika dia ada jadwal kuliah pagi, dengan cara menyiramkan air botol mineral ke mukanya. Hehehe

Posisi kamarnya yang bersebelahan dengan kamar saya membuat saya hafal dengan kebiasaannya setiap pagi.

Lagu nasional Bangun Pemudi Pemuda selalu dia atur repeat sebagai nada alarm. 

Kalau sudah lewat dua kali dan lagu tersebut belum juga dia matikan, berarti saatnya saya untuk masuk ke kamar dan menyiramkan air dari botol mineral ke arahnya. Hehehe

Oiya, sebelum kalian beranggapan kalau saya ini temen macam apa yang tidak punya kasihan, perlu diketahui kalau sebenarnya dia sendiri kok yang meminta saya berbuat begitu. Seriusan.

 

Menulis memang sudah menjadi hobi baru saya semenjak memasuki bangku kuliah.

Blog menjadi tempat terbaik bagi saya untuk menuang segala kegelisahan yang menyarang di kepala saya seharian.

Memberikan jalan kepada hal-hal yang menggantung tersebut untuk keluar. Salah satu cara paling ampuh yang akan saya lakukan untuk melepas penat.

Mengingat saya termasuk tipikal yang begitu: yang ketika mulai gelisah harus segera dialihkan perhatiannya, mencari cara agar hal tersebut tidak terlalu lama mengendap dan khawatir nantinya malah bisa menjadi beban.

Saya melampiaskannya salah satunya dengan menulis.

Saya melampiaskannya dengan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Dan berhubung hari ini adalah hari libur dan saya sedang tidak punya rencana untuk pergi kemana-mana, saya menulis ini deh sebagai pelampiasan dari penat saya. Hehehe

 

And so again, the advice is simply to keep on writing, keep it going.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s