Belajar dari Alkitab

Saya secara pribadi sangat mempercayai bahwa proses yang terjadi pada kehidupan yang kita alami itu selalu ada tiga tipe manusia yang datang, yang seakan Tuhan sepertinya telah memberikan mereka – tiga tipe manusia tadi – satu paket dengan tujuannya masing-masing.

Tipe manusia pertama, adalah mereka yang tinggal di sekitaran dan sering kita temui sehari-hari, seperti keluarga, pasangan, tetangga, teman, hingga rekan kerja.

Tipe manusia kedua, adalah mereka yang datang sekelebat lalu pergi. Orang yang kita ajak ngobrol saat di kereta, orang yang kita lihat membantu ibu ibu yang mau nyebrang jalan – baik banget yak -, orang yang saat kita tanya baik-baik tapi jawabnya serba nyolot, mantan (pftftft), dan masih banyak lainnya.

Kebanyakan dari mereka adalah kumpulan orang yang tidak kita kenal secara pribadi. Momen bersama mereka pun secara umum terbagi menjadi dua:

  1. Meninggalkan kesan
  2. Seringnya mereka adalah orang yang paling mudah kita lupakan kemudian hari.

Tipe manusia ketiga, adalah mereka yang tidak mengenal kita sama sekali, tidak pernah bertemu.

Jarak kehidupan mereka dengan kita pun sangat jauh, namun di sisi lain mereka mempunyai semacam big impact terhadap kehidupan kita sehari-hari.

Mereka adalah golongan para pendahulu, panutan, tokoh.

Contoh sederhananya adalah Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW.

Lalu apa tujuan yang diberikan Tuhan kepada tiga tipe manusia tadi?

Bermacam-macam.

Besi menajamkan besi. Manusia menajamkan sesamanya. (Amsal 27: 17)

Tipe manusia pertama adalah kumpulan orang yang akan membentuk karakter kamu cenderung serba baik atau buruk, humble atau self-centered, menyukai hidup yang organized atau chaotic, yang menentukan kamu akan memiliki perangai yang stabil atau justru meledak-ledak.

Kamu tinggal di sebuah komplek yang kegiatan sosialnya sarat dengan kegiatan kerohanian, keluarga yang adem banget kehidupan rumahnya, tetangga yang saling menjunjung tinggi toleransi, temen-temen kampus yang kompak banget bantuin kamu ngerjain tugas ketika kamu nggak bisa.

Sayangnya, jika tipe manusia pertama membentuk karaktermu yang serba baik seperti ini seringnya akan membangun kamu dengan prinsip hidup yang lempeng-lempeng bae, lebih suka cari aman.

On the other hand, a family where the parents are divorced, and then the children suffer as a result akan menjadikan mereka tumbuh sebagai individu yang antipati terhadap lingkungan, kehidupan sosial dan memiliki hasrat memberontak lumayan tinggi.

Manusia tipe pertama mendadak bisa menjadi salah satu hal terindah atau yang terburuk yang pernah kamu miliki.

Perubahan baru akan kamu rasakan ketika kamu memutuskan untuk keluar dari rumah. Misal merantau bekerja, kuliah di perguruan tinggi yang letaknya di luar kota, atau hidup menjadi pasangan suami-istri dan menetap di tempat lain.

Jelas, kondisi ini nantinya akan membentuk karakter kamu yang berbeda.

Menghadapi rutinitas dan tempat yang baru, logat, bahasa, kultur dan tata adat yang kamu sebagai pendatang mau tidak mau harus menyesuaikan.


It
 was totally different. 

Jauh dari keluarga dan kerabat tidak selamanya terasa nggak enak, hal tersebut justru akan membentuk kamu menjadi pribadi yang lebih berani, bisa diandalkan, disiplin, dan tentunya tumbuh mandiri dari segala aspek.

Meski ada juga kok orang yang tidak kunjung mencapai hal-hal baik seperti yang saya sebut tadi, yang seharusnya bisa mereka dapatkan dari hasil menjajak diri.

Tempat baru justru menarik mereka untuk lebih turun dari kehidupan mereka yang sebelumnya.

Di sinilah manusia tipe kedua berperan pada fase yang sangat menentukan ini. Fase kematangan. Pergaulan. Membangun koneksi. Fase pertengahan dari usia kamu yang akan menentukan apakah kamu bisa melanjutkan hidup dengan mimpi-mimpi kamu dulu, atau justru kamu harus berhenti di sini dan mengubur semuanya dalam-dalam.

Manusia tipe ketiga lebih berperan sebagai panutan, motivasi, dan tujuan dari segala yang kamu lakukan dalam hidup.

Sosok yang nasihatnya kamu jadikan pegangan sebelum melakukan sesuatu, yang kamu baca atau dengar berulang-ulang kisah hidupnya tanpa merasa bosan.

Dan biasanya, manusia tipe ketiga ini adalah sosok yang paling bisa menolong kamu disaat-saat tersulit melalui doa, dan yang paling bisa kamu andalkan dari dua tipe lainnya.

 

 

Bagi kamu yang sekarang baru paham kalau orang orang di sekitar kamu saat ini sebetulnya Tuhan datangkan dengan sebuah tujuan dan bukan dengan sebuah kesia-siaan belaka, baik-baik ya kamu dalam menjalin hubungan dengan tiga tipe manusia tadi.

 

Oiya, by the way sudah telepon ibu di rumah belum hari ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s