Menunggu Pahlawan Mereka Kembali

Mereka telah kehilangan dua sosok pahlawannya.

Malcolm X yang mewakili garis keras. Martin Luther King yang mewakili perjuangannya dengan cara damai. Keduanya meninggal secara tragis oleh peluru pada usia yang sama, 39 tahun.

 

 

 

Dalam sebuah komunitas pergerakan politik (Grassroots Movement), selain strategi yang matang perlu juga diimbangi dengan anggota yang tidak hanya cakap dalam satu bidang.

Setidaknya dalam komunitas tersebut diperlukan dua tipe dari keseluruhan jumlah anggotanya yang harus sama sama berjalan saling beriringan dalam menerapkan strategi tersebut.

Dibutuhkan mereka yang berperan sebagai pemikir (the deep thinkersthe slow who think carefully,  man of political wisdom, man of moderation). Dan mereka yang bertindak secara militan (those who can grass the moment, the swift actors).

Misal ketika ada salah satu anggota yang menjadi korban perlakuan diskriminasi dari pihak lawan, akan ada mereka dari kelompok yang bisa diandalkan untuk menuntut. Berani bersuara lantang, tidak kenal takut mempertahankan hak sesama anggota kelompoknya.

Dan jika salah satu dari anggotanya yang militan bertindak terlalu jauh atau melewati batas, akan ada mereka, si pemikir yang bisa menarik kembali anggota tersebut untuk kembali ke jalur.

There is a tide in the affairs of men. Which, taken at the flood, leads on to fortune; Omitted, all the voyage of their life Is bound in shallows and in miseries. -Shakespeare, No Fear.

Martin Luther King, The Hero of Nonviolence Resistance, metode pergerakannya mengadaptasi filosofi milik Gandhi saat melawan kolonial Inggris yang menjajah India, pada dasarnya gerakan yang dipimpin King tidak mengancam atau bisa membahayakan kehidupan warga kulit putih saat itu.

King menawarkan pada warga kulit hitam sebuah solusi untuk tetap hidup berdampingan dengan warga kulit putih. Hidup dalam kebersamaan, saling menghargai antar sesama ras.

Dalam usahanya untuk mewujudkan semua kesetaraan yang menjadi impian besarnya dia menggunakan jalur diplomasi sebagai senjata. Melobi setiap politisi dari tingkat bawah sampai ke tingkat setinggi presiden John F. Kennedy yang kemudian menjadi aliansi terkuat yang dimiliki King di sektor pemerintahan.

Sementara Malcolm X, The Shining Black Prince, penganut ideologi Marcus Garvey sama seperti ayahnya justru menawarkan kesetaraan hak antar kulit hitam dan kulit putih dengan cara yang lumayan ekstrem.

Diantaranya menuntut dengan tegas kepada pemerintah Amerika untuk bertindak secara adil dan tidak berat sebelah, terutama pada perlakuan diskriminasi, status kewarganegaraan, dan jaminan hukum warga kulit hitam yang selama ini diperlakukan seperti binatang oleh pemerintahan di bawah ras kulit putih.

Malcolm kembali menanamkan sejarah yang sempat mati kepada publik, bahwa ras kulit putih Amerika dahulu bertanggung jawab penuh terhadap segala kesengsaraan yang warga kulit hitam alami selama ratusan tahun. Which is true.

Isu perbudakan yang diperjuangkan para aktivis kulit hitam sebelumnya mulai Malcolm presentasikan kembali di atas podium dengan gayanya yang intelektual dan lantang.

Malcolm mengajak warga kulit hitam untuk berdiri secara independen. Tidak terus menerus bergantung pada “white moderates” yang menurutnya menyengsarakan dan sama sekali tidak memberi kesejahteraan warga kulit hitam.

Menurutnya, selama kulit hitam berada di bawah naungan pemerintahan kulit putih, warga kulit hitam akan selamanya tertindas. Hal tersebut menurutnya hanya akan berakhir ketika ras kulit hitam bersikap independen dengan hidup memisahkan diri (dari kulit putih) dan membentuk sistem pemerintahan mereka sendiri.

Jika keduanya masih hidup hari ini, mungkin King tidak begitu senang ketika namanya semakin tercatat dengan sangat baik di buku sejarah perjuangan kesetaraan hak bagi ras kulit hitam di Amerika, terutama dengan pidato fenomenalnya “I Have a Dream”. 

Dan saya yakin bahwa Malcolm justru akan lebih militan dari sebelumnya, perannya akan lebih krusial ketimbang dulu ketika mencoba berkali-kali untuk mendebat King dengan gerakan nonviolence-nya, yang Malcolm anggap sangat lemah.

Menurut Malcolm, gerakan yang dimotori King hanya akan menjadikan kulit hitam semakin tidak memiliki dignitas dalam memperjuangkan haknya di hadapan ras kulit putih.

 

 

Andai saja keduanya sempat bergabung dalam memperjuangkan hak warga kulit hitam yang mereka wakili.

Andai saja, pertemuan mereka pada tahun 1964 bisa terulang kembali. Tidak hanya sekali. 

Perjuangan mereka memang belum selesai, tapi yang saya tahu pasti perjuangan mereka tidak akan berhenti, sampai mereka menemukan pahlawan mereka kembali.

Advertisements

Everybody’s Changing

“…everybody’s changing and I don’t feel the same…”

This morning I played this song on repeat, I really love it.

 —

 

Kehidupan percintaan saya sangatlah tidak mengenakkan, ngenes ibaratnya.

Meski definisi ngenes setiap orang berbeda-beda. Ngenes bagi saya belum tentu ngenes pada penilaian kamu.

Begitu juga anggapan ngenes versi kamu belum tentu menjadi ngenes versi saya.

Saya dahulu, termasuk orang yang sangat sulit untuk membuka hati pada lawan jenis. Rasanya sulit sekali.

Tapi ketika saya sudah jatuh hati dengan satu perempuan, rasa sayang saya kepada dia tidak akan tanggung-tanggung.

Jangka percintaan saya juga bukan yang satu minggu kemudian putus, hampir setiap perempuan yang pernah menjalin hubungan dengan saya selalu berakhir setelah berjalan bertahun-tahun.

Akibatnya, mereka datang dan pergi sambil membawa ceritanya tersendiri.

Kami berdua sepanjang tahun, pahit manis terjadi, dan ketika hubungan kami mulai meruncing dan memasuki tahap akhir, seringnya, nanti saya lah yang paling susah untuk move on.

Tidak enaknya menjadi orang yang sulit membuka hati adalah ketika dia tidak pernah  tersadar pada fase dimana hati seharusnya berpindah,  fase ketika hubungannya sudah berakhir.

Mengenal orang baru rasanya enggan, hati masih saja saya alamatkan ke mantan.

Saya merasa, saya tidaklah sendirian yang mengalami kejadian seperti ini.

Banyak di luar sana yang mengalami hal persis seperti saya.

Mereka memilih untuk bertahan dengan hatinya ditujukan pada orang yang salah, mantannya, sambil berharap suatu hari nanti akan ada seseorang yang mau mengerti keadaannya dan mau membuka hati untuk mereka secara cuma-cuma.

Iya, kampret, halusinasi mereka emang kejauhan.

You are alone because you push people away. And someday, nobody is gonna bother coming back… – Dea on twitter.

Mereka lebih memilih untuk bertahan dengan orang yang salah ketimbang keluar bertemu orang baru dan mulai memperbaiki cara memilihnya.

Itu adalah yang saya alami pada percintaan saya dulu, saya terlalu cupu untuk membuat big step.

Mantan saya sudah dua kali ganti pasangan, dan saya masih saja setia menunggu dia untuk balikan.

Sialnya, dia nampak selalu memanfaatkan keluguan saya tersebut dengan menjadikan saya sebagai tempat terbaiknya untuk berpulang.

Hampir dipastikan kami akan selalu balikan setelah dia putus dari pacarnya. Dia yang sedang merasakan kosong dan saya yang memang sudah lama berharap.

Ibaratnya, dia bagaikan seorang pengembara ulung, sedangkan saya adalah tempat ternyaman baginya untuk dia singgahi sementara waktu.

Beberapa bulan berjalan, di sela sela hubungan kami yang baru pulih tadi, akan ada saja saat-saat dimana dia akan curhat kepada saya dan bilang bahwa dia sebenarnya tidak pernah merasa nyaman dalam menjalin hubungan dengan mantannya dulu.

Rasa sayangnya selalu terbagi dua, sedikit untuk dia dan porsi yang lebih banyak justru ditujukan untuk saya. Begitu katanya.

Lah???

Terlepas dia sedang bohong atau tidak saat itu, kalau bisa waktu diputar lagi ke momen tersebut hari ini, pasti saya akan teriak ‘ Bangsat lo…!!! ’ di hadapan mukanya.

Karena kalau dipikir-pikir lagi sekarang, ternyata alibi yang dia ciptakan dulu sangatlah receh, dan bodohnya lagi saya percaya dan akan terima.

Menjalani hubungan semu, bilang selamanya akan sayang, padahal ketika di belakang, dia akan memikirkan orang lain secara diam-diam, yang ternyata porsi sayang untuk orang lain tersebut justru jauh lebih besar. Selingkuh batin.

‘Kalau begitu keadaannya, buat apa kamu lanjutin pacaran dengan dia dulu?’  Tanya saya kalem.

‘Habis kamu ini-itu sama aku dulu. Kamu nggak perhatian lah, kamu main game terus lah, kamu selingkuh dengan cewek lain lah dll’ Jawabnya memelas sambil kesal.

Bangsat kan ya?

Pengen saya lempar gelas lama-lama. Hehehe

Kejar yang memang seharusnya kamu kejar. Tinggal yang memang layak untuk kamu tinggal. Sayang sama hidup kamu yang terlalu sempit kalau kamu berputar pada orang yang itu-itu saja.

Kutipan itu baru terbayang di kepala saya beberapa bulan setelah kami berdua putus-balikan untuk yang kesekian kalinya. Tentunya itu terjadi beberapa tahun yang lalu.

Setelah saya sadar, bahwa ternyata selama ini entah dia – berniat atau tidak – telah menjadikan saya sebagai tempat penyembuhan sekaligus pembuangan dari segala sakitnya ketika bersama orang lain.

Namun ketika dia sudah pulih dan merasa kuat untuk pergi, dia akan meninggalkan saya lagi.

Tanpa memikirkan bagaimana keadaan saya yang sudah menunggu dan menerimanya berkali-kali.

Saya bersama dia mulai merasakan bagai terjebak di dalam jurang yang mustahil bagi saya untuk keluar.

“…you’re gone from here
Soon you will disappear
Fading into beautiful light
‘Cause everybody’s changing
And I don’t feel right…”

Hingga suatu hari saya memutuskan: Saya akan meninggalkan dia untuk yang pertama kalinya.

Saya harus keluar dari jurang ini, saya harus menemukan jalan pulang ke rumah, sembari berharap semoga di sepanjang jalan nanti saya akan bertemu seseorang yang mau menyempatkan datang dan menjadi penghuni rumah saya yang baru.

 

 

PS: Jangan jadi orang baik terus ya, gampang dimanfaatin orang lain.

Belajar dari Alkitab

Saya secara pribadi sangat mempercayai bahwa proses yang terjadi pada kehidupan yang kita alami itu selalu ada tiga tipe manusia yang datang, yang seakan Tuhan sepertinya telah memberikan mereka – tiga tipe manusia tadi – satu paket dengan tujuannya masing-masing.

Tipe manusia pertama, adalah mereka yang tinggal di sekitaran dan sering kita temui sehari-hari, seperti keluarga, pasangan, tetangga, teman, hingga rekan kerja.

Tipe manusia kedua, adalah mereka yang datang sekelebat lalu pergi. Orang yang kita ajak ngobrol saat di kereta, orang yang kita lihat membantu ibu ibu yang mau nyebrang jalan – baik banget yak -, orang yang saat kita tanya baik-baik tapi jawabnya serba nyolot, mantan (pftftft), dan masih banyak lainnya.

Kebanyakan dari mereka adalah kumpulan orang yang tidak kita kenal secara pribadi. Momen bersama mereka pun secara umum terbagi menjadi dua:

  1. Meninggalkan kesan
  2. Seringnya mereka adalah orang yang paling mudah kita lupakan kemudian hari.

Tipe manusia ketiga, adalah mereka yang tidak mengenal kita sama sekali, tidak pernah bertemu.

Jarak kehidupan mereka dengan kita pun sangat jauh, namun di sisi lain mereka mempunyai semacam big impact terhadap kehidupan kita sehari-hari.

Mereka adalah golongan para pendahulu, panutan, tokoh.

Contoh sederhananya adalah Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW.

Lalu apa tujuan yang diberikan Tuhan kepada tiga tipe manusia tadi?

Bermacam-macam.

Besi menajamkan besi. Manusia menajamkan sesamanya. (Amsal 27: 17)

Tipe manusia pertama adalah kumpulan orang yang akan membentuk karakter kamu cenderung serba baik atau buruk, humble atau self-centered, menyukai hidup yang organized atau chaotic, yang menentukan kamu akan memiliki perangai yang stabil atau justru meledak-ledak.

Kamu tinggal di sebuah komplek yang kegiatan sosialnya sarat dengan kegiatan kerohanian, keluarga yang adem banget kehidupan rumahnya, tetangga yang saling menjunjung tinggi toleransi, temen-temen kampus yang kompak banget bantuin kamu ngerjain tugas ketika kamu nggak bisa.

Sayangnya, jika tipe manusia pertama membentuk karaktermu yang serba baik seperti ini seringnya akan membangun kamu dengan prinsip hidup yang lempeng-lempeng bae, lebih suka cari aman.

On the other hand, a family where the parents are divorced, and then the children suffer as a result akan menjadikan mereka tumbuh sebagai individu yang antipati terhadap lingkungan, kehidupan sosial dan memiliki hasrat memberontak lumayan tinggi.

Manusia tipe pertama mendadak bisa menjadi salah satu hal terindah atau yang terburuk yang pernah kamu miliki.

Perubahan baru akan kamu rasakan ketika kamu memutuskan untuk keluar dari rumah. Misal merantau bekerja, kuliah di perguruan tinggi yang letaknya di luar kota, atau hidup menjadi pasangan suami-istri dan menetap di tempat lain.

Jelas, kondisi ini nantinya akan membentuk karakter kamu yang berbeda.

Menghadapi rutinitas dan tempat yang baru, logat, bahasa, kultur dan tata adat yang kamu sebagai pendatang mau tidak mau harus menyesuaikan.


It
 was totally different. 

Jauh dari keluarga dan kerabat tidak selamanya terasa nggak enak, hal tersebut justru akan membentuk kamu menjadi pribadi yang lebih berani, bisa diandalkan, disiplin, dan tentunya tumbuh mandiri dari segala aspek.

Meski ada juga kok orang yang tidak kunjung mencapai hal-hal baik seperti yang saya sebut tadi, yang seharusnya bisa mereka dapatkan dari hasil menjajak diri.

Tempat baru justru menarik mereka untuk lebih turun dari kehidupan mereka yang sebelumnya.

Di sinilah manusia tipe kedua berperan pada fase yang sangat menentukan ini. Fase kematangan. Pergaulan. Membangun koneksi. Fase pertengahan dari usia kamu yang akan menentukan apakah kamu bisa melanjutkan hidup dengan mimpi-mimpi kamu dulu, atau justru kamu harus berhenti di sini dan mengubur semuanya dalam-dalam.

Manusia tipe ketiga lebih berperan sebagai panutan, motivasi, dan tujuan dari segala yang kamu lakukan dalam hidup.

Sosok yang nasihatnya kamu jadikan pegangan sebelum melakukan sesuatu, yang kamu baca atau dengar berulang-ulang kisah hidupnya tanpa merasa bosan.

Dan biasanya, manusia tipe ketiga ini adalah sosok yang paling bisa menolong kamu disaat-saat tersulit melalui doa, dan yang paling bisa kamu andalkan dari dua tipe lainnya.

 

 

Bagi kamu yang sekarang baru paham kalau orang orang di sekitar kamu saat ini sebetulnya Tuhan datangkan dengan sebuah tujuan dan bukan dengan sebuah kesia-siaan belaka, baik-baik ya kamu dalam menjalin hubungan dengan tiga tipe manusia tadi.

 

Oiya, by the way sudah telepon ibu di rumah belum hari ini?

Keep On Writing, Keep It Going.

Saya sudah pernah menuliskan sebelumnya tentang bagaimana awal mula saya belajar menulis di sini.

Dan pada tulisan kali ini, saya ingin melanjutkan tentang hal apa yang membuat saya tidak berhenti dari kegiatan menulis.

Sometimes the things that are seemingly the most tangential in your life are worth exploring. Trust that gut feeling. And it is never, ever a bad idea to learn how to convey your thoughts and ideas in written form — no matter where you publish them. –M.G. Siegler

Sebagai tipikal nokturnal, sampai sekarang waktu malam selalu menjadi waktu terbaik bagi saya untuk menulis.

Perbedaannya adalah kalau dulu saya sampai tidak ingat waktu.

Dulu saya bisa menghabiskan berjam-jam saat tengah malam hingga menjelang subuh hanya untuk menulis satu sampai tiga artikel untuk saya post di blog.

Keesokan harinya, saya akan berangkat ke kampus untuk mengikuti mata kuliah seperti biasa.

Sepulangnya dari kampus, siang atau sorenya biasanya akan saya manfaatkan dengan tidur. Dan itu terjadi setiap hari.

Kebiasaan saya yang – serba terbalik – tersebut semakin parah setelah kedatangan penghuni baru di kamar sebelah, namanya Bayu, seorang mahasiswa perantauan dari Kudus yang kuliah di kampus yang berbeda dengan saya.

Sial, kebiasaannya yang ternyata hampir sama seperti saya  – suka begadang – malah membuat kami berteman baik.

In fact, he was extremely night owls person.

Hampir setiap malam kalau kami berdua sedang berada di kontrakan, saya atau dia akan main ke kamar masing-masing.

Saya akan datang sambil membawa laptop dan buku agar lebih fokus untuk mengerjakan tugas dan tentunya sebagai inspirasi saya dalam menulis, sedangkan dia akan sibuk dengan game dan kegemarannya terhadap anime.

Menjelang pagi, jika ada salah satu dari kami yang bangun terlebih dulu, maka sudah menjadi tugasnya untuk membangunkan yang lain agar bersiap untuk kuliah pagi. Begitu seterusnya.

Hari-hari saya sebagai mahasiswa saat itu tidak pernah lepas dari rasa kantuk dan terbangun dari tidur dengan kepala yang sangat berat.

Badan terasa ringan kadang juga sesak dipakai untuk berjalan, rasanya seperti sedang dihimpit oleh dua tembok besar. Berantakan.

Beruntungnya, pola hidup saya yang seperti itu tidak keterusan.

Saya mulai mencari cara untuk memperbaiki jam tidur malam saya yang carut marut tersebut dengan salah satunya memutuskan untuk pindah dari kelas pagi ke kelas malam beberapa minggu kemudian.

Beberapa bulan berjalan, kelas malam mulai berhasil membuat saya lebih menghargai bahwa waktu malam memang waktu yang seharusnya saya gunakan untuk mengistirahatkan tubuh. Bukan sebaliknya.

Kebiasaan baru saya setiap pulang dari kuliah malam adalah menyempatkan diri untuk sekadar main atau mengerjakan tugas bersama teman di kantin atau tempat tongkrongan lainnya.

Supaya nanti ketika sampai di kontrakan, saya akan terlelap karena capek.

Beruntung, cara tersebut lumayan berhasil.

Terbukti satu bulan setelah saya menjalani rutinitas tadi jam tidur saya mulai kembali normal.

Bayu masih setia dengan kebiasaannya tidur larut hingga semester akhir.

Dan saya hampir setiap pagi akan mengetuk pintu kamarnya dan membangunkannya ketika dia ada jadwal kuliah pagi, dengan cara menyiramkan air botol mineral ke mukanya. Hehehe

Posisi kamarnya yang bersebelahan dengan kamar saya membuat saya hafal dengan kebiasaannya setiap pagi.

Lagu nasional Bangun Pemudi Pemuda selalu dia atur repeat sebagai nada alarm. 

Kalau sudah lewat dua kali dan lagu tersebut belum juga dia matikan, berarti saatnya saya untuk masuk ke kamar dan menyiramkan air dari botol mineral ke arahnya. Hehehe

Oiya, sebelum kalian beranggapan kalau saya ini temen macam apa yang tidak punya kasihan, perlu diketahui kalau sebenarnya dia sendiri kok yang meminta saya berbuat begitu. Seriusan.

 

Menulis memang sudah menjadi hobi baru saya semenjak memasuki bangku kuliah.

Blog menjadi tempat terbaik bagi saya untuk menuang segala kegelisahan yang menyarang di kepala saya seharian.

Memberikan jalan kepada hal-hal yang menggantung tersebut untuk keluar. Salah satu cara paling ampuh yang akan saya lakukan untuk melepas penat.

Mengingat saya termasuk tipikal yang begitu: yang ketika mulai gelisah harus segera dialihkan perhatiannya, mencari cara agar hal tersebut tidak terlalu lama mengendap dan khawatir nantinya malah bisa menjadi beban.

Saya melampiaskannya salah satunya dengan menulis.

Saya melampiaskannya dengan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Dan berhubung hari ini adalah hari libur dan saya sedang tidak punya rencana untuk pergi kemana-mana, saya menulis ini deh sebagai pelampiasan dari penat saya. Hehehe

 

And so again, the advice is simply to keep on writing, keep it going.

It’s Worth A Try

Definisi sukses versi kamu bagaimana?

Karena seiring perjalanan waktu dan bertambahnya usia kamu, sesungguhnya tidak ada siapapun yang akan mengharapkan kamu untuk menyelesaikan sesuatu atas apa yang kamu mulai, yang ingin kamu gapai. Kecuali diri kamu sendiri.

That was no fun.

You are the only one disappointed that you haven’t accomplished certain things. 

It was a pain in the ass. 

If you want to succeed as much as you want to breath- you will succeed. –Eric Thomas

Saya ingin berbagi tentang bagaimana saya menilai orang layak disebut hidupnya sukses itu bagaimana, dari sudut pandang saya yang minus tiga ini.

Siapa tahu bisa menambah pemahaman kamu tentang sukses.

Tapi jika sukses versi kamu kekeuh dan melulu harus punya handphone keluaran terbaru, uang berjibun, pasangan yang cakepnya nggak ketulungan dan hal-hal berbau materil lainnya, mending kamu cukup baca tulisan saya sampai akhir paragraf ini aja deh.

Sorry to say, sukses kamu dangkal.

Karena definisi sukses setiap orang kan berbeda-beda.

 

Victor Ng has said in one of his post on medium:

Difficult conditions are what separates the winners from the wannabes.

Setiap manusia fitrahnya selalu sama; mempunyai kekurangan dan kelebihan, yang membedakan hanya tekadnya dalam menggapai tujuan.

Sering banget kan kita melihat ada penyandang disabilitas bisa melukis bagus banget di atas kanvas pakai kuas, yang karena tangannya nggak bisa buat melukis lalu mereka menggunakan kaki atau mulut sebagai gantinya.

Saya terus terang sering merasa malu pada diri sendiri setiap baca berita, atau melihat mereka secara langsung.

Dengan keadaannya, mereka justru terpacu semangatnya untuk tidak mau diremehkan karena keterbatasannya.

Sementara saya, yang diberkahi Tuhan dengan keadaan yang lebih beruntung malah bersikap santai-santai saja, tanpa berpikir untuk menggali lebih potensi apa yang sebenarnya saya miliki.

 Most people want to be good at what they do, but too few are brave enough to want to be great at it. Instead of stretching their ambitions and abilities, they settle for small goals… – Victor Ng

Dikutip dari tulisannya Edward Suhadi tentang Sukses Yang Saya Kejar bahwa hidup yang sukses itu menghidupi tiga hal.

  1. Mengetahui tujuan hidupnya (knowing your purpose)
  2. Mengembangkan diri sebaik-baiknya (growing to your full potential)
  3. Menabur benih untuk kebaikan orang lain (sowing seeds that benefit others)

Couldn’t agree more.

Secara garis besar sukses versi saya tidak jauh beda dengan apa yang ditulis Edward.

Hanya ingin sedikit menambahkan pada salah satu dari tiga poin di atas, bahwa suksesnya hidup terjadi ketika kita sudah mencapai batas bahwa belajar dan haus akan pengetahuan menjadi sebuah hobi.

Tidak cepat merasa puas.

Puas disini yang saya maksud adalah growing to your full potential seperti yang dimaksud Edward tadi.

Segala hal yang bisa menunjang kamu be fuckin’ great at what you do.

And when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. -Paul Coelho

Selama hal tersebut adalah hal yang membuat kamu nyaman, yang kamu suka, tidak merugikan banyak orang dan yang paling utama hal itu adalah yang akan mengembangkan potensi kamu, I think it’s worth a try.

3 Things To Keep Private In Life

3 things to keep private in life: your love life, your income, your next move.

Manusia era pre-web, tiga hal di atas bukanlah lagi sebuah quote, they lived that way. 

Sementara era digital seperti sekarang, kita – let me included myself – sering sekali tidak peduli dengan apa itu makna dan perilaku menjaga privasi.

Media sosial saat ini seperti sudah kehilangan esensi dari fungsinya yang sebenarnya.

Berbagi kabar dengan mereka yang tidak bisa kita jangkau kehadirannya. Connects people.

I just don’t like phones. I just don’t like them… being reachable all the time. –Johnny Depp

Pertanyaannya kemudian menjadi begini: ‘Sudahkah kita menjaga apa yang sepatutnya menjadi sebuah privasi hidup kita sendiri?’

  1. Privasi dalam menjalin hubungan
  2. Privasi yang harus kita hargai dari pasangan

Foto wajah pasangan yang hendak kita post apakah sudah mendapatkan ijin dari yang bersangkutan?

Mengumbar rupa cantik pasangan kamu menjadi konsumsi publik, yang seharusnya hanya kamu yang boleh menikmati rupa cantik pasangan/istrimu sendiri.

Pandai-pandai ya dalam memilah mana yang kiranya layak atau tidak untuk kamu post ke publik.

Pastinya nggak mau dong kalau salah satu dari teman kamu ada yang merasa ill feel sama kamu hanya karena salah satu dari kalian ternyata masih norak ketika main socmed.

Jangan deh membuat temen kamu sampai *muntah tinja* setiap lihat atau baca caption foto yang kamu post.

 

 

PS: Alasan saya menulis ini sama sekali tidak melarang kamu untuk share moments on Instagram kok.

Hanya saja, saya sebagai sesama pengguna media sosial mencoba mengingatkan supaya jangan terlalu berlebihan. Jangan norak.

Nanti bisa bisa kamu yang saya lempar tinja lho. Mau?

Brand New Day

3 years of blogging. Crazy.

Malam itu sepulang dari kegiatan kampus, saya mengalami insomnia yang rasanya mungkin sudah mulai memasuki tingkat akut.

Sudah dua minggu belakangan jam tidur malam saya tidak pernah teratur.

Beberapa buku saya baca berulang-ulang, koleksi film di laptop saya tonton hingga bosan.

Tidak ada satupun yang berhasil.

Sebagai mahasiswa baru, Semarang saat itu sudah menjadi rumah kedua bagi saya selama 3 bulan. Kota yang tidak pernah terbayang pada benak saya sebelumnya, bahwa saya akan menetap di sini selama beberapa tahun ke depan untuk menempuh studi lanjutan dengan status sebagai mahasiswa perantauan.

Di sini, seorang diri tanpa sanak saudara atau keluarga dekat yang setidaknya bisa saya kunjungi setiap libur akhir pekan


I knew basically no one
.

Kota yang ternyata kalau siang terik banget.

Meski perbedaannya dengan panas di Jakarta yang pernah saya rasakan terbilang sangat jauh, panas di Semarang adalah murni karena cuaca, sedangkan panas di Jakarta teriknya lebih dari sekadar membuat kulit gosong. Menyengat. Parah banget.

Biarpun begitu, ada banyak sekali hal yang membuat saya selalu jatuh hati dengan kota Semarang ini, salah satunya adalah suasana malamnya. Tidak pernah gagal membuat saya merasa jenuh. Cantik. Kecuali malam itu.

I was bored.

Saya membuka laman browser, saya mulai menulis di tumblr.

3 years later, I’m still typing.

Sekitar awal tahun 2014, saya mulai menulis di tumblr, dua tahun kemudian akun tersebut akhirnya saya hapus secara permanen.

Mengingat konten dari blog tumblr saya saat itu terbilang sangat memalukan dan selalu membuat sakit mata ketika saya baca ulang.

Lebih buruk dari status pertama akun facebook saya.

It was a silly journal. 

Maklum ya, awal mlula saya belajar menulis.

Isinya tentang sajak, curhat dan tulisan galau tidak jelas saya lainnya sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang perempuan yang “pernah” saya anggap penting di kehidupan saya saat itu. You know, ldr life suck. 

And that’s what happenedI mean, it was stupid.

And yet, here I am still writing. 

Still on the web.

 

Berikut adalah salah satu sajak yang saya tulis 3 tahun lalu, masih tersimpan di folder.

 

Hujan dan Gamang

Setiap senja yang kau lewati tanpa sapa

Lusinan malam yang berhasil kau pejam dengan singkatnya

Ribuan sekat yang sekejap rasanya ingin kalian gulung

Rapalan doa yang saat ini mungkin saja sudah menggunung

Memang begitu mahalnya sebuah pertemuan

Sungguh begitu jahatnya jarak telah memperlakukan kalian

Malam kalian memang selalu begitu

Tidak pernah berbeda dari malam-malam sebelumnya

Malam kalian selalu sama 

Tidak ada bedanya dengan malamku

Malamnya,

Malam kami berdua

 

 

WHAT THE FUCK IS THAT…??? 

It Lingers…

maxresdefault
The Cranberries live in Paris, 1999

Rest In Peace Dolores O’Riordan

The world has lost a true multitalented today.

Saya harus berterimakasih kepada kakak pertama saya, yang telah mengenalkan saya dengan “Linger” lagu milik The Cranberries melalui dua unit mp3 player yang kakak saya berikan sebagai oleh oleh sepulangnya dari Singapore.

Sejak saat itu, pembuka lagu ‘’Linger’’ berhasil mencuri perhatian saya.

“Linger” terasa lebih dari sekadar layak untuk dinobatkan sebagai salah satu pembuka lagu terbaik sepanjang masa. Transisi setiap melodi di awalnya sangat sempurna, nyaris tanpa cacat.

Bagi yang  baru mendengarkan pertama kali, akan merasa bahwa setiap menit dari lagu ini justru menyajikan hal yang sangat berbeda dari ekspektasi awal ketika mendengarkan intro.

It’s so different. It’s so distinct.

Unexpected.

But I’ve always loved that song.

This morning, I was shocked to hear that Dolores O’Riordan, the lead singer of The Cranberries, had passed away. She was just 46 years old.

 

Berawal dari mendengarkan “Zombie” untuk pertama kalinya ketika usia 12 tahun, The Cranberries sekejap menjadi salah satu figur yang sangat saya gilai. Meski sebenarnya lagu tersebut sudah dirilis pada tahun 1994, dua tahun bahkan sebelum saya lahir.

Menonton lagi video klip tersebut, 22 tahun kemudian, 20 tahun setelah “The Troubles”  yang menjadi inspirasi Dolores dalam menciptakan “Zombie” berakhir, lagu tersebut masih saja membuat saya merinding seperti saat saya mendengarkannya pertama kali.

‘’In your head…” menjadi satu-satunya chorus yang paling saya hafal setiap mendengarkan lagu ini dulu.

 

Sebuah artikel pada tahun 2011 yang di-publish The New York Times menjelaskan seperti ada semacam kolerasi ketika usia menginjak 14 tahun dengan musik yang kita dengarkan pada masa tersebut.

Dikutip dari penulis artikel tersebut, David Hadju:

Fourteen is a formative age, especially for people growing up in social contexts framed by pop culture. You’re in the ninth grade, confronting the tyrannies of sex and adulthood, struggling to figure out what kind of adult you’d like to be, and you turn to the cultural products most important in your day as sources of cool — the capital of young life.

And I’m completely agree with this, as 1994 was one hell of a year for music.

Memang setiap musisi yang meninggal secara mendadak menjadi semacam kilas balik bagi mereka, generasi yang hidup dieranya, yang merasa bahwa musik tersebut telah mengubah kehidupannya.

Seperti parade kelam yang harus dirayakan para pendengarnya untuk mengingat kembali ke masa lalu, masa ketika musik tersebut baru pertama kali mereka perdengarkan.

The Cranberries telah berhasil mencuri perhatian saya sejak kecil.

Mereka masih dan akan tetap menjadi salah satu figur yang saya gilai. Terlepas dulu saya mendengarkan lagu mereka atau tidak, bagi saya sama saja.

Karena setiap masterpiece pasti akan menampakkan dirinya ke permukaan, entah kapan waktunya, untuk menunjukan kualitasnya.

Membuktikan bahwa ada mereka di belakangnya yang sempat hidup dan pernah membuat karya segemilang ini.

 

Other gems; “Free to Decide”, “You and Me”, “Salvation”, “I’m Still Remembering”, “Loud and Clear”, “Wake Up and Smell the Coffee”, “Ode to My Family”.

What’s yours?