Everybody’s Changing

“…everybody’s changing and I don’t feel the same…”

This morning I played this song on repeat, I really love it.

 —

 

Kehidupan percintaan saya sangatlah tidak mengenakkan, ngenes ibaratnya.

Meski definisi ngenes setiap orang berbeda-beda. Ngenes bagi saya belum tentu ngenes pada penilaian kamu.

Begitu juga anggapan ngenes versi kamu belum tentu menjadi ngenes versi saya.

Saya dahulu, termasuk orang yang sangat sulit untuk membuka hati pada lawan jenis. Rasanya sulit sekali.

Tapi ketika saya sudah jatuh hati dengan satu perempuan, rasa sayang saya kepada dia tidak akan tanggung-tanggung.

Jangka percintaan saya juga bukan yang satu minggu kemudian putus, hampir setiap perempuan yang pernah menjalin hubungan dengan saya selalu berakhir setelah berjalan bertahun-tahun.

Akibatnya, mereka datang dan pergi sambil membawa ceritanya tersendiri.

Kami berdua sepanjang tahun, pahit manis terjadi, dan ketika hubungan kami mulai meruncing dan memasuki tahap akhir, seringnya, nanti saya lah yang paling susah untuk move on.

Tidak enaknya menjadi orang yang sulit membuka hati adalah ketika dia tidak pernah  tersadar pada fase dimana hati seharusnya berpindah,  fase ketika hubungannya sudah berakhir.

Mengenal orang baru rasanya enggan, hati masih saja saya alamatkan ke mantan.

Saya merasa, saya tidaklah sendirian yang mengalami kejadian seperti ini.

Banyak diluar sana yang mengalami hal persis seperti saya.

Mereka memilih untuk bertahan dengan hatinya ditujukan pada orang yang salah, mantannya, sambil berharap suatu hari nanti akan ada seseorang yang mau mengerti keadaannya dan mau membuka hati untuk mereka secara cuma-cuma.

Iya, kampret, halusinasi mereka emang kejauhan.

You are alone because you push people away. And someday, nobody is gonna bother coming back… – Dea on twitter.

Mereka lebih memilih untuk bertahan dengan orang yang salah ketimbang keluar bertemu orang baru dan mulai memperbaiki cara memilihnya.

Itu adalah yang saya alami pada percintaan saya dulu, saya terlalu cupu untuk membuat big step.

Mantan saya sudah dua kali ganti pasangan, dan saya masih saja setia menunggu dia untuk balikan.

Sialnya, dia nampak selalu memanfaatkan keluguan saya tersebut dengan menjadikan saya sebagai tempat terbaiknya untuk berpulang.

Hampir dipastikan kami akan selalu balikan setelah dia putus dari pacarnya. Dia yang sedang merasakan kosong dan saya yang memang sudah lama berharap.

Ibaratnya, dia bagaikan seorang pengembara ulung, sedangkan saya adalah tempat ternyaman baginya untuk dia singgahi sementara waktu.

Beberapa bulan berjalan, disela sela hubungan kami yang baru pulih tadi, akan ada saja saat-saat dimana dia akan curhat kepada saya dan bilang bahwa dia sebenarnya tidak pernah merasa nyaman dalam menjalin hubungan dengan mantannya dulu.

Rasa sayangnya selalu terbagi dua, sedikit untuk dia dan porsi yang lebih banyak justru ditujukan untuk saya. Begitu katanya.

Lah???

Terlepas dia sedang bohong atau tidak saat itu, kalau bisa waktu diputar lagi ke momen tersebut hari ini, pasti saya akan teriak ‘ Bangsat lo…!!! ’ di hadapan mukanya.

Karena kalau dipikir-pikir lagi sekarang, ternyata alibi yang dia ciptakan dulu sangatlah receh, dan bodohnya lagi saya percaya dan akan terima.

Menjalani hubungan semu, bilang selamanya akan sayang, padahal ketika di belakang, dia akan memikirkan orang lain secara diam-diam, yang ternyata porsi sayang untuk orang lain tersebut justru jauh lebih besar. Selingkuh batin.

‘Kalau begitu keadaannya, buat apa kamu lanjutin pacaran dengan dia dulu?’  Tanya saya kalem.

‘Habis kamu ini-itu sama aku dulu. Kamu nggak perhatian lah, kamu main game terus lah, kamu selingkuh dengan cewek lain lah dll’ Jawabnya memelas sambil kesal.

Bangsat kan ya?

Pengen saya lempar gelas lama-lama. Hehehe

Kejar yang memang seharusnya kamu kejar. Tinggal yang memang layak untuk kamu tinggal. Sayang sama hidup kamu yang terlalu sempit kalau kamu berputar pada orang yang itu-itu saja.

Kutipan itu baru terbayang di kepala saya beberapa bulan setelah kami berdua putus-balikan untuk yang kesekian kalinya. Tentunya itu terjadi beberapa tahun yang lalu.

Setelah saya sadar, bahwa ternyata selama ini entah dia – berniat atau tidak – telah menjadikan saya sebagai tempat penyembuhan sekaligus pembuangan dari segala sakitnya ketika bersama orang lain.

Namun ketika dia sudah pulih dan merasa kuat untuk pergi, dia akan meninggalkan saya lagi.

Tanpa memikirkan bagaimana keadaan saya yang sudah menunggu dan menerimanya berkali-kali.

Saya bersama dia mulai merasakan bagai terjebak di dalam jurang yang mustahil bagi saya untuk keluar.

“…you’re gone from here
Soon you will disappear
Fading into beautiful light
‘Cause everybody’s changing
And I don’t feel right…”

Hingga suatu hari saya memutuskan: Saya akan meninggalkan dia untuk yang pertama kali. Saya harus keluar dari jurang ini, saya harus menemukan jalan pulang ke rumah, sembari berharap semoga di sepanjang jalan nanti saya akan bertemu seseorang yang mau menyempatkan datang dan menjadi penghuni rumah saya yang baru.

 

 

PS: Jangan jadi orang baik terus ya, gampang dimanfaatin orang lain.

Keep On Writing, Keep It Going.

Saya sudah pernah menuliskan sebelumnya tentang bagaimana awal mula saya belajar menulis disini.

Dan pada tulisan kali ini, saya ingin melanjutkan tentang hal apa yang membuat saya tidak berhenti dari kegiatan menulis.

Sometimes the things that are seemingly the most tangential in your life are worth exploring. Trust that gut feeling. And it is never, ever a bad idea to learn how to convey your thoughts and ideas in written form — no matter where you publish them. –M.G. Siegler

Sebagai tipikal nokturnal, sampai sekarang waktu malam selalu menjadi waktu terbaik bagi saya untuk menulis.

Perbedaannya adalah kalau dulu saya sampai tidak ingat waktu.

Dulu saya bisa menghabiskan berjam-jam saat tengah malam hingga menjelang subuh hanya untuk menulis satu sampai tiga artikel untuk saya post di blog.

Keesokan harinya, saya akan berangkat ke kampus untuk mengikuti mata kuliah seperti biasa.

Sepulangnya dari kampus, siang atau sorenya biasanya akan saya manfaatkan dengan tidur. Dan itu terjadi setiap hari.

Kebiasaan saya yang – serba terbalik – tersebut semakin parah setelah kedatangan penghuni baru di kamar sebelah, namanya Bayu, seorang mahasiswa perantauan dari Kudus yang kuliah di kampus yang berbeda dengan saya.

Sial, kebiasaannya yang ternyata hampir sama seperti saya  – suka begadang – malah membuat kami berteman baik.

In fact, he is extremely night owls person.

Hampir setiap malam kalau kami berdua sedang berada di kontrakan, saya atau dia akan main ke kamar masing-masing.

Saya akan datang sambil membawa laptop dan buku agar lebih fokus untuk mengerjakan tugas dan tentunya sebagai inspirasi saya dalam menulis, sedangkan dia akan sibuk dengan game dan kegemarannya terhadap anime.

Menjelang pagi, jika ada salah satu dari kami yang bangun terlebih dulu, maka sudah menjadi tugasnya untuk membangunkan yang lain agar bersiap untuk kuliah pagi. Begitu seterusnya.

Hari-hari saya sebagai mahasiswa saat itu tidak pernah lepas dari rasa kantuk dan terbangun dari tidur dengan kepala yang sangat berat.

Badan terasa ringan kadang juga sesak dipakai untuk berjalan, rasanya seperti sedang dihimpit oleh dua tembok besar. Berantakan.

Beruntungnya, pola hidup saya yang seperti itu tidak keterusan.

Saya mulai mencari cara untuk memperbaiki jam tidur malam saya yang carut marut tersebut dengan salah satunya memutuskan untuk pindah dari kelas pagi ke kelas malam beberapa minggu kemudian.

Beberapa bulan berjalan, kelas malam mulai berhasil membuat saya lebih menghargai bahwa waktu malam memang waktu yang seharusnya saya gunakan untuk mengistirahatkan tubuh. Bukan sebaliknya.

Kebiasaan baru saya setiap pulang dari kuliah malam adalah menyempatkan diri untuk sekadar main atau mengerjakan tugas bersama teman di kantin atau tempat tongkrongan lainnya.

Supaya nanti ketika sampai di kontrakan, saya akan terlelap karena capek.

Beruntung, cara tersebut lumayan berhasil.

Terbukti satu bulan setelah saya menjalani rutinitas tadi jam tidur saya mulai kembali normal.

Bayu masih setia dengan kebiasaannya tidur larut hingga semester akhir.

Dan saya hampir setiap pagi akan mengetuk pintu kamarnya dan membangunkannya ketika dia ada jadwal kuliah pagi, dengan cara menyiramkan air botol mineral ke mukanya. Hehehe

Posisi kamarnya yang bersebelahan dengan kamar saya membuat saya hafal dengan kebiasaannya setiap pagi.

Lagu nasional Bangun Pemudi Pemuda selalu dia atur repeat sebagai nada alarm. 

Kalau sudah lewat dua kali dan lagu tersebut belum juga dia matikan, berarti saatnya saya untuk masuk ke kamar dan menyiramkan air dari botol mineral ke arahnya. Hehehe

Oiya, sebelum kalian beranggapan kalau saya ini temen macam apa yang tidak punya kasihan, perlu diketahui kalau sebenarnya dia sendiri kok yang meminta saya berbuat begitu. Seriusan.

 

Menulis memang sudah menjadi hobi baru saya semenjak memasuki bangku kuliah.

Blog menjadi tempat terbaik bagi saya untuk menuang segala kegelisahan yang menyarang di kepala saya seharian.

Memberikan jalan kepada hal-hal yang menggantung tersebut untuk keluar. Salah satu cara paling ampuh yang akan saya lakukan untuk melepas penat.

Mengingat saya termasuk tipikal yang begitu: yang ketika mulai gelisah harus segera dialihkan perhatiannya, mencari cara agar hal tersebut tidak terlalu lama mengendap dan khawatir nantinya malah bisa menjadi beban.

Saya melampiaskannya salah satunya dengan menulis.

Saya melampiaskannya dengan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Dan berhubung hari ini adalah hari libur dan saya sedang tidak punya rencana untuk pergi kemana-mana, saya menulis ini deh sebagai pelampiasan dari penat saya. Hehehe

 

And so again, the advice is simply to keep on writing, keep it going.

Brand New Day

3 years of blogging. Crazy.

Malam itu sepulang dari kegiatan kampus, saya mengalami insomnia yang rasanya mungkin sudah mulai memasuki tingkat akut.

Sudah dua minggu belakangan jam tidur malam saya tidak pernah teratur.

Beberapa buku saya baca berulang-ulang, koleksi film di laptop saya tonton hingga bosan.

Tidak ada satupun yang berhasil.

Sebagai mahasiswa baru, Semarang saat itu sudah menjadi rumah kedua bagi saya selama 3 bulan. Kota yang tidak pernah terbayang pada benak saya sebelumnya, bahwa saya akan menetap disini selama beberapa tahun ke depan untuk menempuh studi lanjutan dengan status sebagai mahasiswa perantauan.

Disini, seorang diri tanpa sanak saudara atau keluarga dekat yang setidaknya bisa saya kunjungi setiap libur akhir pekan


I knew basically no one
.

Kota yang ternyata kalau siang terik banget.

Meski perbedaannya dengan panas di Jakarta yang pernah saya rasakan terbilang sangat jauh, panas disini adalah murni karena cuaca, sedangkan panas di Jakarta teriknya lebih dari sekadar membuat kulit gosong. Menyengat. Parah banget.

Biarpun begitu, ada banyak sekali hal yang membuat saya selalu jatuh hati dengan kota Semarang ini, salah satunya adalah suasana malamnya. Tidak pernah gagal membuat saya merasa jenuh. Cantik. Kecuali malam itu.

I was bored.

Saya membuka laman browser, saya mulai menulis di tumblr.

3 years later, I’m still typing.

Sekitar awal tahun 2014, saya mulai menulis di tumblr, dua tahun kemudian akun tersebut akhirnya saya hapus secara permanen.

Mengingat konten dari blog tumblr saya saat itu terbilang sangat memalukan dan selalu membuat sakit mata ketika saya baca ulang.

Lebih buruk dari status pertama akun facebook saya.

It was a silly journal. 

Maklum ya, awal mlula saya belajar menulis.

Isinya tentang sajak, curhat dan tulisan galau tidak jelas saya lainnya sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang perempuan yang “pernah” saya anggap penting di kehidupan saya saat itu. You know, ldr life suck. 

And that’s what happenedI mean, it was stupid.

And yet, here I am still writing. 

Still on the web.

 

Berikut adalah salah satu sajak yang saya tulis 3 tahun lalu, masih tersimpan di folder.

 

Hujan dan Gamang

Setiap senja yang kau lewati tanpa sapa

Lusinan malam yang berhasil kau pejam dengan singkatnya

Ribuan sekat yang sekejap rasanya ingin kalian gulung

Rapalan doa yang saat ini mungkin saja sudah menggunung

Memang begitu mahalnya sebuah pertemuan

Sungguh begitu jahatnya jarak telah memperlakukan kalian

Malam kalian memang selalu begitu

Tidak pernah berbeda dari malam-malam sebelumnya

Malam kalian selalu sama 

Tidak ada bedanya dengan malamku

Malamnya,

Malam kami berdua

 

 

WHAT THE FUCK IS THAT…???