Menunggu Pahlawan Mereka Kembali

Mereka telah kehilangan dua sosok pahlawannya.

Malcolm X yang mewakili garis keras. Martin Luther King yang mewakili perjuangannya dengan cara damai. Keduanya meninggal secara tragis oleh peluru pada usia yang sama, 39 tahun.

 

 

 

Dalam sebuah komunitas pergerakan politik (Grassroots Movement), selain strategi yang matang perlu juga diimbangi dengan anggota yang tidak hanya cakap dalam satu bidang.

Setidaknya dalam komunitas tersebut diperlukan dua tipe dari keseluruhan jumlah anggotanya yang harus sama sama berjalan saling beriringan dalam menerapkan strategi tersebut.

Dibutuhkan mereka yang berperan sebagai pemikir (the deep thinkersthe slow who think carefully,  man of political wisdom, man of moderation). Dan mereka yang bertindak secara militan (those who can grass the moment, the swift actors).

Misal ketika ada salah satu anggota yang menjadi korban perlakuan diskriminasi dari pihak lawan, akan ada mereka dari kelompok yang bisa diandalkan untuk menuntut. Berani bersuara lantang, tidak kenal takut mempertahankan hak sesama anggota kelompoknya.

Dan jika salah satu dari anggotanya yang militan bertindak terlalu jauh atau melewati batas, akan ada mereka, si pemikir yang bisa menarik kembali anggota tersebut untuk kembali ke jalur.

There is a tide in the affairs of men. Which, taken at the flood, leads on to fortune; Omitted, all the voyage of their life Is bound in shallows and in miseries. -Shakespeare, No Fear.

Martin Luther King, The Hero of Nonviolence Resistance, metode pergerakannya mengadaptasi filosofi milik Gandhi saat melawan kolonial Inggris yang menjajah India, pada dasarnya gerakan yang dipimpin King tidak mengancam atau bisa membahayakan kehidupan warga kulit putih saat itu.

King menawarkan pada warga kulit hitam sebuah solusi untuk tetap hidup berdampingan dengan warga kulit putih. Hidup dalam kebersamaan, saling menghargai antar sesama ras.

Dalam usahanya untuk mewujudkan semua kesetaraan yang menjadi impian besarnya dia menggunakan jalur diplomasi sebagai senjata. Melobi setiap politisi dari tingkat bawah sampai ke tingkat setinggi presiden John F. Kennedy yang kemudian menjadi aliansi terkuat yang dimiliki King di sektor pemerintahan.

Sementara Malcolm X, The Shining Black Prince, penganut ideologi Marcus Garvey sama seperti ayahnya justru menawarkan kesetaraan hak antar kulit hitam dan kulit putih dengan cara yang lumayan ekstrem.

Diantaranya menuntut dengan tegas kepada pemerintah Amerika untuk bertindak secara adil dan tidak berat sebelah, terutama pada perlakuan diskriminasi, status kewarganegaraan, dan jaminan hukum warga kulit hitam yang selama ini diperlakukan seperti binatang oleh pemerintahan di bawah ras kulit putih.

Malcolm kembali menanamkan sejarah yang sempat mati kepada publik, bahwa ras kulit putih Amerika dahulu bertanggung jawab penuh terhadap segala kesengsaraan yang warga kulit hitam alami selama ratusan tahun. Which is true.

Isu perbudakan yang diperjuangkan para aktivis kulit hitam sebelumnya mulai Malcolm presentasikan kembali di atas podium dengan gayanya yang intelektual dan lantang.

Malcolm mengajak warga kulit hitam untuk berdiri secara independen. Tidak terus menerus bergantung pada “white moderates” yang menurutnya menyengsarakan dan sama sekali tidak memberi kesejahteraan warga kulit hitam.

Menurutnya, selama kulit hitam berada di bawah naungan pemerintahan kulit putih, warga kulit hitam akan selamanya tertindas. Hal tersebut menurutnya hanya akan berakhir ketika ras kulit hitam bersikap independen dengan hidup memisahkan diri (dari kulit putih) dan membentuk sistem pemerintahan mereka sendiri.

Jika keduanya masih hidup hari ini, mungkin King tidak begitu senang ketika namanya semakin tercatat dengan sangat baik di buku sejarah perjuangan kesetaraan hak bagi ras kulit hitam di Amerika, terutama dengan pidato fenomenalnya “I Have a Dream”. 

Dan saya yakin bahwa Malcolm justru akan lebih militan dari sebelumnya, perannya akan lebih krusial ketimbang dulu ketika mencoba berkali-kali untuk mendebat King dengan gerakan nonviolence-nya, yang Malcolm anggap sangat lemah.

Menurut Malcolm, gerakan yang dimotori King hanya akan menjadikan kulit hitam semakin tidak memiliki dignitas dalam memperjuangkan haknya di hadapan ras kulit putih.

 

 

Andai saja keduanya sempat bergabung dalam memperjuangkan hak warga kulit hitam yang mereka wakili.

Andai saja, pertemuan mereka pada tahun 1964 bisa terulang kembali. Tidak hanya sekali. 

Perjuangan mereka memang belum selesai, tapi yang saya tahu pasti perjuangan mereka tidak akan berhenti, sampai mereka menemukan pahlawan mereka kembali.

Advertisements

Everybody’s Changing

“…everybody’s changing and I don’t feel the same…”

This morning I played this song on repeat, I really love it.

 —

 

Kehidupan percintaan saya sangatlah tidak mengenakkan, ngenes ibaratnya.

Meski definisi ngenes setiap orang berbeda-beda. Ngenes bagi saya belum tentu ngenes pada penilaian kamu.

Begitu juga anggapan ngenes versi kamu belum tentu menjadi ngenes versi saya.

Saya dahulu, termasuk orang yang sangat sulit untuk membuka hati pada lawan jenis. Rasanya sulit sekali.

Tapi ketika saya sudah jatuh hati dengan satu perempuan, rasa sayang saya kepada dia tidak akan tanggung-tanggung.

Jangka percintaan saya juga bukan yang satu minggu kemudian putus, hampir setiap perempuan yang pernah menjalin hubungan dengan saya selalu berakhir setelah berjalan bertahun-tahun.

Akibatnya, mereka datang dan pergi sambil membawa ceritanya tersendiri.

Kami berdua sepanjang tahun, pahit manis terjadi, dan ketika hubungan kami mulai meruncing dan memasuki tahap akhir, seringnya, nanti saya lah yang paling susah untuk move on.

Tidak enaknya menjadi orang yang sulit membuka hati adalah ketika dia tidak pernah  tersadar pada fase dimana hati seharusnya berpindah,  fase ketika hubungannya sudah berakhir.

Mengenal orang baru rasanya enggan, hati masih saja saya alamatkan ke mantan.

Saya merasa, saya tidaklah sendirian yang mengalami kejadian seperti ini.

Banyak di luar sana yang mengalami hal persis seperti saya.

Mereka memilih untuk bertahan dengan hatinya ditujukan pada orang yang salah, mantannya, sambil berharap suatu hari nanti akan ada seseorang yang mau mengerti keadaannya dan mau membuka hati untuk mereka secara cuma-cuma.

Iya, kampret, halusinasi mereka emang kejauhan.

You are alone because you push people away. And someday, nobody is gonna bother coming back… – Dea on twitter.

Mereka lebih memilih untuk bertahan dengan orang yang salah ketimbang keluar bertemu orang baru dan mulai memperbaiki cara memilihnya.

Itu adalah yang saya alami pada percintaan saya dulu, saya terlalu cupu untuk membuat big step.

Mantan saya sudah dua kali ganti pasangan, dan saya masih saja setia menunggu dia untuk balikan.

Sialnya, dia nampak selalu memanfaatkan keluguan saya tersebut dengan menjadikan saya sebagai tempat terbaiknya untuk berpulang.

Hampir dipastikan kami akan selalu balikan setelah dia putus dari pacarnya. Dia yang sedang merasakan kosong dan saya yang memang sudah lama berharap.

Ibaratnya, dia bagaikan seorang pengembara ulung, sedangkan saya adalah tempat ternyaman baginya untuk dia singgahi sementara waktu.

Beberapa bulan berjalan, di sela sela hubungan kami yang baru pulih tadi, akan ada saja saat-saat dimana dia akan curhat kepada saya dan bilang bahwa dia sebenarnya tidak pernah merasa nyaman dalam menjalin hubungan dengan mantannya dulu.

Rasa sayangnya selalu terbagi dua, sedikit untuk dia dan porsi yang lebih banyak justru ditujukan untuk saya. Begitu katanya.

Lah???

Terlepas dia sedang bohong atau tidak saat itu, kalau bisa waktu diputar lagi ke momen tersebut hari ini, pasti saya akan teriak ‘ Bangsat lo…!!! ’ di hadapan mukanya.

Karena kalau dipikir-pikir lagi sekarang, ternyata alibi yang dia ciptakan dulu sangatlah receh, dan bodohnya lagi saya percaya dan akan terima.

Menjalani hubungan semu, bilang selamanya akan sayang, padahal ketika di belakang, dia akan memikirkan orang lain secara diam-diam, yang ternyata porsi sayang untuk orang lain tersebut justru jauh lebih besar. Selingkuh batin.

‘Kalau begitu keadaannya, buat apa kamu lanjutin pacaran dengan dia dulu?’  Tanya saya kalem.

‘Habis kamu ini-itu sama aku dulu. Kamu nggak perhatian lah, kamu main game terus lah, kamu selingkuh dengan cewek lain lah dll’ Jawabnya memelas sambil kesal.

Bangsat kan ya?

Pengen saya lempar gelas lama-lama. Hehehe

Kejar yang memang seharusnya kamu kejar. Tinggal yang memang layak untuk kamu tinggal. Sayang sama hidup kamu yang terlalu sempit kalau kamu berputar pada orang yang itu-itu saja.

Kutipan itu baru terbayang di kepala saya beberapa bulan setelah kami berdua putus-balikan untuk yang kesekian kalinya. Tentunya itu terjadi beberapa tahun yang lalu.

Setelah saya sadar, bahwa ternyata selama ini entah dia – berniat atau tidak – telah menjadikan saya sebagai tempat penyembuhan sekaligus pembuangan dari segala sakitnya ketika bersama orang lain.

Namun ketika dia sudah pulih dan merasa kuat untuk pergi, dia akan meninggalkan saya lagi.

Tanpa memikirkan bagaimana keadaan saya yang sudah menunggu dan menerimanya berkali-kali.

Saya bersama dia mulai merasakan bagai terjebak di dalam jurang yang mustahil bagi saya untuk keluar.

“…you’re gone from here
Soon you will disappear
Fading into beautiful light
‘Cause everybody’s changing
And I don’t feel right…”

Hingga suatu hari saya memutuskan: Saya akan meninggalkan dia untuk yang pertama kalinya.

Saya harus keluar dari jurang ini, saya harus menemukan jalan pulang ke rumah, sembari berharap semoga di sepanjang jalan nanti saya akan bertemu seseorang yang mau menyempatkan datang dan menjadi penghuni rumah saya yang baru.

 

 

PS: Jangan jadi orang baik terus ya, gampang dimanfaatin orang lain.

Belajar dari Alkitab

Saya secara pribadi sangat mempercayai bahwa proses yang terjadi pada kehidupan yang kita alami itu selalu ada tiga tipe manusia yang datang, yang seakan Tuhan sepertinya telah memberikan mereka – tiga tipe manusia tadi – satu paket dengan tujuannya masing-masing.

Tipe manusia pertama, adalah mereka yang tinggal di sekitaran dan sering kita temui sehari-hari, seperti keluarga, pasangan, tetangga, teman, hingga rekan kerja.

Tipe manusia kedua, adalah mereka yang datang sekelebat lalu pergi. Orang yang kita ajak ngobrol saat di kereta, orang yang kita lihat membantu ibu ibu yang mau nyebrang jalan – baik banget yak -, orang yang saat kita tanya baik-baik tapi jawabnya serba nyolot, mantan (pftftft), dan masih banyak lainnya.

Kebanyakan dari mereka adalah kumpulan orang yang tidak kita kenal secara pribadi. Momen bersama mereka pun secara umum terbagi menjadi dua:

  1. Meninggalkan kesan
  2. Seringnya mereka adalah orang yang paling mudah kita lupakan kemudian hari.

Tipe manusia ketiga, adalah mereka yang tidak mengenal kita sama sekali, tidak pernah bertemu.

Jarak kehidupan mereka dengan kita pun sangat jauh, namun di sisi lain mereka mempunyai semacam big impact terhadap kehidupan kita sehari-hari.

Mereka adalah golongan para pendahulu, panutan, tokoh.

Contoh sederhananya adalah Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW.

Lalu apa tujuan yang diberikan Tuhan kepada tiga tipe manusia tadi?

Bermacam-macam.

Besi menajamkan besi. Manusia menajamkan sesamanya. (Amsal 27: 17)

Tipe manusia pertama adalah kumpulan orang yang akan membentuk karakter kamu cenderung serba baik atau buruk, humble atau self-centered, menyukai hidup yang organized atau chaotic, yang menentukan kamu akan memiliki perangai yang stabil atau justru meledak-ledak.

Kamu tinggal di sebuah komplek yang kegiatan sosialnya sarat dengan kegiatan kerohanian, keluarga yang adem banget kehidupan rumahnya, tetangga yang saling menjunjung tinggi toleransi, temen-temen kampus yang kompak banget bantuin kamu ngerjain tugas ketika kamu nggak bisa.

Sayangnya, jika tipe manusia pertama membentuk karaktermu yang serba baik seperti ini seringnya akan membangun kamu dengan prinsip hidup yang lempeng-lempeng bae, lebih suka cari aman.

On the other hand, a family where the parents are divorced, and then the children suffer as a result akan menjadikan mereka tumbuh sebagai individu yang antipati terhadap lingkungan, kehidupan sosial dan memiliki hasrat memberontak lumayan tinggi.

Manusia tipe pertama mendadak bisa menjadi salah satu hal terindah atau yang terburuk yang pernah kamu miliki.

Perubahan baru akan kamu rasakan ketika kamu memutuskan untuk keluar dari rumah. Misal merantau bekerja, kuliah di perguruan tinggi yang letaknya di luar kota, atau hidup menjadi pasangan suami-istri dan menetap di tempat lain.

Jelas, kondisi ini nantinya akan membentuk karakter kamu yang berbeda.

Menghadapi rutinitas dan tempat yang baru, logat, bahasa, kultur dan tata adat yang kamu sebagai pendatang mau tidak mau harus menyesuaikan.


It
 was totally different. 

Jauh dari keluarga dan kerabat tidak selamanya terasa nggak enak, hal tersebut justru akan membentuk kamu menjadi pribadi yang lebih berani, bisa diandalkan, disiplin, dan tentunya tumbuh mandiri dari segala aspek.

Meski ada juga kok orang yang tidak kunjung mencapai hal-hal baik seperti yang saya sebut tadi, yang seharusnya bisa mereka dapatkan dari hasil menjajak diri.

Tempat baru justru menarik mereka untuk lebih turun dari kehidupan mereka yang sebelumnya.

Di sinilah manusia tipe kedua berperan pada fase yang sangat menentukan ini. Fase kematangan. Pergaulan. Membangun koneksi. Fase pertengahan dari usia kamu yang akan menentukan apakah kamu bisa melanjutkan hidup dengan mimpi-mimpi kamu dulu, atau justru kamu harus berhenti di sini dan mengubur semuanya dalam-dalam.

Manusia tipe ketiga lebih berperan sebagai panutan, motivasi, dan tujuan dari segala yang kamu lakukan dalam hidup.

Sosok yang nasihatnya kamu jadikan pegangan sebelum melakukan sesuatu, yang kamu baca atau dengar berulang-ulang kisah hidupnya tanpa merasa bosan.

Dan biasanya, manusia tipe ketiga ini adalah sosok yang paling bisa menolong kamu disaat-saat tersulit melalui doa, dan yang paling bisa kamu andalkan dari dua tipe lainnya.

 

 

Bagi kamu yang sekarang baru paham kalau orang orang di sekitar kamu saat ini sebetulnya Tuhan datangkan dengan sebuah tujuan dan bukan dengan sebuah kesia-siaan belaka, baik-baik ya kamu dalam menjalin hubungan dengan tiga tipe manusia tadi.

 

Oiya, by the way sudah telepon ibu di rumah belum hari ini?

3 Things To Keep Private In Life

3 things to keep private in life: your love life, your income, your next move.

Manusia era pre-web, tiga hal di atas bukanlah lagi sebuah quote, they lived that way. 

Sementara era digital seperti sekarang, kita – let me included myself – sering sekali tidak peduli dengan apa itu makna dan perilaku menjaga privasi.

Media sosial saat ini seperti sudah kehilangan esensi dari fungsinya yang sebenarnya.

Berbagi kabar dengan mereka yang tidak bisa kita jangkau kehadirannya. Connects people.

I just don’t like phones. I just don’t like them… being reachable all the time. –Johnny Depp

Pertanyaannya kemudian menjadi begini: ‘Sudahkah kita menjaga apa yang sepatutnya menjadi sebuah privasi hidup kita sendiri?’

  1. Privasi dalam menjalin hubungan
  2. Privasi yang harus kita hargai dari pasangan

Foto wajah pasangan yang hendak kita post apakah sudah mendapatkan ijin dari yang bersangkutan?

Mengumbar rupa cantik pasangan kamu menjadi konsumsi publik, yang seharusnya hanya kamu yang boleh menikmati rupa cantik pasangan/istrimu sendiri.

Pandai-pandai ya dalam memilah mana yang kiranya layak atau tidak untuk kamu post ke publik.

Pastinya nggak mau dong kalau salah satu dari teman kamu ada yang merasa ill feel sama kamu hanya karena salah satu dari kalian ternyata masih norak ketika main socmed.

Jangan deh membuat temen kamu sampai *muntah tinja* setiap lihat atau baca caption foto yang kamu post.

 

 

PS: Alasan saya menulis ini sama sekali tidak melarang kamu untuk share moments on Instagram kok.

Hanya saja, saya sebagai sesama pengguna media sosial mencoba mengingatkan supaya jangan terlalu berlebihan. Jangan norak.

Nanti bisa bisa kamu yang saya lempar tinja lho. Mau?